-

August 29, 2009

Fasal 11 - Gurindam 12 Melayu Riau

Fasal 11 - Gurindam 12 Melayu Riau
Hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat






hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

18 komentar to “Fasal 11 - Gurindam 12 Melayu Riau”

nice posting sob,
You and me pecinta budaya

prafangga permana said...
on 

wow,,,nice blog. thanks buat segala refrensi yg ada di blog ini. smoga ada ksmpatan brkunjung k sana.

come and get it said...
on 

Wah bagus, ini nih yang harus kita lakukan agar buadaya kita bsia selalu di lestarikan. agar tidak di klaim oelh negara lain...

Bagus post nya kawan.

gema_gogo said...
on 

Salam,

Gurindam yang tidak akan lupus selagi terusan diperturunkan sebagai pusaka ibunda......., bak kata ayahnda, tak lekang dek hujan, tak lapok dek panas. Orang berbudi kita berbahasa, orang memberi kita merasa....

YANG GAMBI said...
on 

hargailah budaya dan sejarah bangsa...
seneng banget mampir kesini

dadang firdaos said...
on 

Selalu Update ya...Mana Lin Jalur Bloggernya Nih???

Ronaldo Rozalino, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi said...
on 

kata-katanya susah juga...

narti said...
on 

sy salut dengan situs2 ber besic budaya bangsa Kita..seperti blog anda ini...terus lah berkarya, jangan berhenti dan menyerah, bangkitkan budaya2 bangsa agar tidak di kleim oleh bangsa lain...siapa lagi yang menjaga dan melestarikan budaya bangsa kita kalau bukan kita...Teruskan sahabat..saya dukung anda...

Willyo Alsyah P.Pratama said...
on 

gurindam, fosil kuansing, prasasti darmasraya (baru ditemukan), jangan mpe diambil si malingsi

attayaya said...
on 

wah jadi tambah pengetahuan sob... thanks yo,,, jgn lpa mampir kermhku....

Om Kempul said...
on 

lestarikan budaya indoensia jangan sampai di curi lagi oleh negeri tetangga

Deni Ahmad Jaelani said...
on 

Salam ziarah.. Terima kasih sudi berkunjung ke blog saya (^__^)

Faarihin said...
on 

Permisi Mo ngasih hadih nich
Tunjukan jiwa patriotismu Kang jikalau berkenan diambil yah disini Thx B4

prafangga permana said...
on 

sahur.............

attayaya said...
on 

Blog anda OK dan unik Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

Salam hormat
http://kombes.Com

Kombes.Com said...
on 

Selalu semangat selamatkan budaya kita

Salam kenal

Ardhiansyam said...
on 

gurindamnya keren banget
semoga budaya tetep terjaga

anno said...
on 

Sastra itu kalam,kuasa itu pena,pendita itu guru agama,
sebagai tata untuk acara,mengenal diri di alam abdi,
sabda brahman sabda resi, kebenaran sastra hidup abadi,
dibicara halus serba terperinci,kebenaran tidak berubah bagi,
barulah sang adi dikenal pasti, memahami ilmu lurus dan rapi,
menjadi pelita di malam hari, inilah guru yang sejati,
bukan hanya melafaz kata, sudah tenggelam dilautan hakiki,
barulah sisalek dipimpin jati, kelak ketemu yang abadi.

Aduhai sastrawan hai sastrawani, sastra pani pasupita pati,
sastra ini anugerah illahi, janganlah ia dijual beli,
simpanlah ia didalam hati, sebatikan ia didalam diri,
moga diberkati sekelian wali, malaikati adama pertivi.

Sastra abadi membentuk diri, menjadi manikam sekalian sandri,
abadikan ia didalam dirimu, jadikan ia pending hidupmu,
agar sejahtera perjalananmu itu, menuju kepada yang satu.

Mantra dibaca didalam hati, mengenal nafas wujud sejati,
ilmu jangan dijual beli binasa rohani cacatlah diri.

alifa babiba tatata katamantra, maujud itu kata yang nyata itu nyawa,
takata tateta atata matatiga,cahyaku geliga rupaku wasesa.
manaka adika brahmana astaka, kun itu raga sukma yang mahaesa,
tiada makna lidah berkata selagi jiwa tiada gelora,
asyik itu tandanya dia fana segala sekelian anggota.

Dibawa raga didalam dunia,lidah berkata membawa makna,
indah dipuja raga dan ragam, jauhari jua kenal manikam,
carilah pendi di kota pesantri, bistari itulah tandanya ragi,
sastra dibaca didalam hati, mencari hikmah pengenalan diri,
barulah dapat kata yang sakti, menjadi bukti adanya diri,
ibarat timba mencari perigi, hantu dan peri menunduk diri.

Diksa itu ilmu hakiki diri, panahan hati disanubari,
ramai yang bingung tidak mengerti, kononnya inilah ilmu yang pasti,
berwirid petang malam dan pagi, memuji pencipta alam ini,
tiada diketahui asalnya diri,hanya melangkah mengikut kaki,
tiada penghujung tiada paksi,rendahnya diri bermegah hati,
hai salik kau tidak mengerti, tiada apa yang hendak dicari,
kerana diri tiada bukti, wujud yang esa meliputi diri,
nafsu sendiri menjadi saksi,atas jahil dialam ini.

Manalah bisa menembus qalbi, selagi akal menghijab diri,
Makrifat tanda yang telah jadi, bukan tarikat menghindar diri.
Jangan disangka wahdah didekati, wahdiah belum dikenal rapi,
Alam mana hendak dijejaki, pada dirimu tandanya bakti.
bersatu dalam kelambu berahi,hilangnya salik tiada bukti.

Ingatlah pesan sang karana vahana, tiada kata dialam bunia
mengejar bayang kehujung dunia, patahnya hati hilangnya rasa,
walau mata jauh saujana, dekat hati pada dunia.

Lidah wacana katamu suchi, hadirmu masih merenggang hakiki,
kerana masih berahi duniawi, walau harta tidak dicari,
anak isteri tiada diganti,kasih illahi tiada dirasai.

Inilah hidup seorang hamba tiada ada tiada bertuan,

Bagai badai menghampar diri, lautan hakiki tidak bertepi,
menjadi hina dipaksi diri, aib tidak terkata lagi,
kerana lupa diri azali,kelak merana di hari nanti,
barulah tahu nasibnya nanti,

Asalmu tiada, tidak mungkin ada, Kalau ada jahillah diri,
naraka mana tempatnya ganti, pabila mati menyerah diri,
jangan dikesal masa berganti, tiada afdal perbuatan diri,
jika diri masih berdiri,alamat sesat tak kesampaian nanti.

Inilah sastra kenalilah ia, bukan ilmu dituntut dunia,
dimana saja didalam dunia, adika aneka jauhar naraka.

Siksa itu perit terluka, akibat keris ditikam didada ,
tidak sama dengan sidiksa, ianya sakit didalam jiwa,
fahamilah ini kata permata, untuk mereka yang ingin fana,

Didalam dunia Prabhupada berkata, carilah makna didalam kata,
bukan ayat bermain dimata, hikmahnya jua sentiasa nyata,
sebagai sabda orang mulia, menjadi pelita hidup di dunia,

Malenka Sri Elang said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs