-

March 12, 2009

Kerajaan Kandis adalah Atlantis ?

Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia. Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.


Namun sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud. Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya terbuat dari emas, perak dan perunggu.
Cerita Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.

Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas - Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.

Lenyapnya Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).
Istana Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus. Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.

Pulau Sumatera dalam Lintasan Sejarah
Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Atlas, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka jelas daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka diperkirakan adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakar yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih, sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.

Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis
Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan. Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama dengan Istana Dhamna.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dari hasil bumi seperti emas, perak, dan lain-lain. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Raja Darmaswara memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Malaka oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka selama berabad-abad sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan sejarah Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Malaka dan Kepulauan Riau.

Raja Darmaswara memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain diantaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh Legendaris Minangkabau.

Setelah kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang menghilangkan istana dari pandangan manusia.

Istana Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh) orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.

Pada tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat. Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.

Setelah mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt. Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.

Dt. Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah Kuantan.

Pada tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang Sapurba menerima tawaran tersebut.

Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular) tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya pelabuhan dagang.

Pada tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar. Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan Kuantan.

Penyebaran keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga, Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.

Bukti-bukti Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut

Bukti daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca diantaranya adalah:
• Adanya tempat bernama Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).

• Adanya tempat bernama Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).

• Ditemukannya fosil kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.

• Adanya nama tempat bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya) mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.

• Pada tahun 2000 M ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari Universitas Hasanudin Makasar.

Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:
• Bekas penambangan emas yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.

• Adanya daerah yang bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang titah.

• Istana Dhamna yang berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).
Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:

• Adanya tempat yang disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata candi.

• Dilain tempat telah berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.

• Pada tahun 1970-an banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit emas, dan mata pancing dari emas.
• Pada tahun 1967 ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.

• Pada tahun 2007 dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.

• Adanya sungai yang mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.

• Adanya tempat bernama Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu sebelah kiri kepalanya. Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.

Bukti Kerajaan Kancil Putih

• Adanya ekspedisi Raja Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat Sintongah di Desa Sangau.
Demikianlah gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan budaya dunia. Oleh karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap kembali pusat peradaban dunia tersebut.

Ini hanyalah sebuah analisis pemikiran tanpa dasar ilmiah yang kuat, jadi sampai saat ini catatan tentang kerajaan Kandis sangat Minim, mungkin hanya terdapat dalam Kitab Negara Kertagama, mohon masukan dari yang lebih ahli, tentang Kerajan kandis

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

25 komentar to “Kerajaan Kandis adalah Atlantis ?”

wahhh bagus postingannya, dpt ilmu br niy. makasih share nya ya.

Li said...
on 

sebelumnya banyak dugaan dan perkiraan mengenai atlantis, dan selama ini perkiraan itu atlantis berada di Indonesia dan juga di lautan pasifik, Kalau menurut saya atlantis itu ada di Kandis, kenapa ? Atlantis dan Kandis khan nyambung sama-sama berakhiran is. Atlantis is Kandis. Bravo Kuansing.

eri-communicator said...
on 

jadi atlantis bukan di samdura atlantik??????

doeng...doeng.... jadi bingung....

bang tukeran link yuk...linknya udah kupasang.... makasih

kakve_santi said...
on 

wah..ini aset yg berharga nich buat BudPar Kuansing..

Suara Fajli said...
on 

hmmm.... menarik juga artikelnya :)

asaloesoel.co.cc said...
on 

Mantap artikelnya,,

Om Canel said...
on 

ooooOOOOO....waahhh..keren nih bro...tambah pengetahuan ...Salut deh...

zujoe said...
on 

hmmm, menurut perkiraan atlantis itu di indonesia ya?

aaLiL said...
on 

Wah, aku kurang kompeten di bidang ini. Mungkin ada ahli sejarah atau antropologi yang mau menambahkan... :)

sunardi said...
on 

ada artikel terkaitnya di blogku, boleh dibaca2 sebagai referensi artikel ini:)

Blog Sejarah said...
on 

wah bagus ni....
sebenarnya kalo melihat dari sejarahnya indonesia pernah mengalami titik kejayaan yang tak sebanding dengan sekarang. contoh kecil pada masanya rangkaian barobudur adalah bentuk arsitektur yang megah pada masanya dan bahkan mesirpun terinspirasi olehnya, jadi bangsa indonesia sebenarnya dan kemungkinan besar bisa jaya kembali serta menguasai perdagangan di dunia

oogix said...
on 

INi satu dakwaan yang sangat LIAR. Jika masyarakat Atlantis (Kandis)terbahagi kpd 2 iaitu yang kulit putih (Aryan) dan kulit hitam/sawo... di mana perginya keturunan Aryan itu sekarang di Indonesia (Sumatera). Adakah mungkin semuanya terpelanting ke Benua Eropah semasa letusan gunung Toba dan Krakatoa itu??? Maka yg tinggal di sini cuma yg hitam/coklat dan pesek hidungnya??
Yg putih di Indonesia sekarang mmg ada ..tapi itu saki baki Belanda dan Arab.
Tentunya Kerajaan Kandis dan Atlantis dua tamadun yang berbeda!!

Sheikh Sambal said...
on 

Wah,sepertinya Asyik..Biasa tukeran Informasi nih,sob..

travelvaganza.com said...
on 

wew ..bagus juga artikel nya ..wisata2 kuansing di riau ini sungguh asyik..n kita sebagai warga kuansing mempertahankan tempat2 wisata ini ..n smoga ada lagi tempat2 wisata yg lebih bagus lagi dr sblum nya...amin ..fb qu andri88_andes@yahoo.com

andri firnandes said...
on 

wah banyak hal baru nih... thanks ya :)

intermezo said...
on 

Sep2 entar ta tambahin nih juga buat referensi, hehehe

cara ganti titlepost ky punya ane
ya ditambahin shadow ama ganti stylenya aja boz..

klo mo tau add ym ane aja soalnya sulit klo jelasin kek gini. btw klo wp ane kaga tau deh

diqkynaruto@yahoo.co.id

nationalinks said...
on 

sip! ini info yg sy butuhkan ^^

bunga kristal said...
on 

Ini hanya sekelumit kisah sejarah Orang Melayu (Malai), sebelum berpecah menjadi suku-suku Jawa, Banjar, Bugis, Minang, Batak, Iban, Kadazandusun, Bajau, Bawean, Sunda, Aceh dll. Sebenarnya Orang Melayu atau Malai atau Malay telah menghuni Alam Melayu ini lebih sejuta tahun dahulu dan ada mempunyai ajaran sendiri yang dinamakan "Malaiyana Mulayanam" (Ajaran Melayu Mula Ajaran). Orang Melayu telah membina tamadun besar di zaman purbakala (prehistory) dan mengembara ke seluruh dunia. Mereka membina tamadun di Mohendja-Daro, Harappa di Lembah Indus; Sumeria di Lembah Mesopotamia; Mesir Purba; Pesisir Laut Mediterranean (Sparta yang kemudiannya berkembang tamadun Greek/Yunani); Amerika Selatan dan berbagai tempat lagi. Oleh kerana berlaku bencana paling dahsyat di muka bumi, iaitu meletusnya Gunung Batara Guru yang terletak di Sumatera (kemudiannya menjadi Danau Toba dan puncak gunung menjadi Pulau Samosir), sebahagian wilayah Alam Melayu telah tenggelam ke dalam laut (kini menjadi Laut China Selatan, Laut Sulu, Laut Jawa dan Teluk Siam). Alam Melayu merentang sehingga ke Taiwan (kini menjadi Pulau Taiwan). Sesungguhnya Melayu itu Alam, Dunia Pemikiran Ketuhan dan Budaya Yang Memerintah.
Apabila Orang Melayu berpecah dan sebahagian buminya tenggelam, tamadun Melayu pun musnah dan digantikan oleh tamadun bangsa-bangsa lain yang diajar oleh leluhur kita. Namun begitu, Melayu tetap sakti dan hebat di bidang pertukangan, ukiran, pelayaran dan pertanian. Jika senjata bangsa-bangsa lain hanya lurus dan sedikit bengkok seperti tombak dan pedang, tetapi senjata Orang Melayu berbelok-belok (keris) yang sangat efektif. Kenapakah banjaran gunung tertinggi di dunia dinamakan Himalaya? "Hi" adalah 'gunung' dan "malaya" adalah 'malai' atau malays atau malayu atau melayu.
Tiga ribu tahun dahulu, agama Hindu pun masuk ke Alam Melayu. Apabila raja memeluk agama tersebut, rakyat pun ikut sama secara paksa atau terpaksa. Kemudian datang agama Buddha. Orang Melayu pun hilang identiti bangsanya sendiri kerana mengambil pengaruh asing. Kemudian datang agama Islam dan bila raja memeluk Islam, rakyat pun turut sama. Hilang lagi identiti Melayu. Kemudian penjajah Barat menguasai Alam Melayu kerana raja-raja Melayu membenarkan mereka berniaga di sini. Kini Orang Melayu beragama Islam tetapi berfahaman Barat. Identiti Melayu sudah pupus, tetapi sekelumit sahaja yang masih mewarisi leluhur Melayu, terutamanya di Indonesia. Nama Indonesia, seperti Sukarno, Suharto, Susilo Bambang Yudhiyono adalah nama-nama asli Melayu. Kebanyakan Orang Melayu memakai nama Arab.
Apabila pengaruh Barat mencengkam Alam Melayu (Indonesia dikuasai oleh Belanda; Malaysia oleh Inggeris; Brunei oleh Inggeris; Filipina oleh Sepanyol), Orang Melayu berpecah lagi menjadi Orang Indonesia, Orang Malaysia, Orang Singapura; Orang Brunei; Orang Filipina. Kemudian Orang Melayu berpecah lagi menjadi propinsi-propinsi dan negeri-negeri.
Marilah kita bersatu padu untuk mengembalikan kesaktian Melayu yang ditinggalkan oleh leluhur kita beratus ribu tahun dahulu. Permata yang tenggelam ini akan bersinar kembali untuk memimpin dunia. Lebih 350 juta Orang Melayu di seluruh dunia mampu menjadi kuasa penting dunia masakini.
Baca blog saya: drilyasharunmalaysia.blogspot.com

drilyas said...
on 

melayu asli sumatra indonesia. berbeda dengan malingsia hanya melayu campuran, suku asli malasya ialah: semai, senoi, temuan, arao, trengganu, khmer, temian dsb.

Agif viq said...
on 

Sangat luar biasa menarik, untuk penggemar cerita-cerita hikayat agama yang menunjukan budaya satu bangsa yang terjalin dalam satu ruang fragmentasi dari mitologi kuno. menurut kami Riau /Pekanbaru memang dikenal punya keunikan Budaya,,juga terkenal tutur kata petuah dalam Gurindam 12.Dari Penyair Nasional ter masyhur Amir Hamzah, kemudian Raja Ali. dan masih banyak lagi guru petuah dalam syatar/sair , yang menuliskan kitab-kitab kuno yang menjadi akar dari bahasa ataupun kultur budaya melayu- dari minangkabau.Hingga hari ini kita bangsa Nasionl di pelosok negeri Indonesia masih dapat merasakan dan serta menggunakannya....dalam kehidupan sehari-hari.bahkan negara tetangga yang beradab melayu yakni Malaysia.

ARI_ANDI_CELLA said...
on 

sangat luar biasa menarik dari segi bahasa dan kultur budaya melayu, dan kota minagkabau memang sudah terkenal hingga ken Negeri/benua lain...terkenal seperti Guru Petuah-nya yang pandai menulis Gurindam 12 yakni Amir Hamzah ,Raja Ali, dan kemudian masih banyak lagi pujangga melayu asal Minangkabau hingga di jaman Modern ini masih terus dirasakan oleh bangsa nasional di pseluruh pelosok negeri Indonesia.

ARI_ANDI_CELLA said...
on 

sunda bukan melayu

Anonymous said...
on 

fakta menarik dalam tulisan ini:

1.lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.

anda tidak berani menjelaskan lebih lanjut padahal anda tahu PERTEMUAN 2 SUNGAI dalam banyak peninggalan,prasasti,observasi data sejarah mengacu ke MINANGA KAMWA(kembar). pertemuan sungai kampar kiri dan kanan tepatnya wilayah Sumbar sekarang atau minangkabau.


2. Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi
oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya.

Jika anda setuju dengan teori penyusutan air laut yg anda kemukakan panjang lebar disini secara tidak lansung ada bisa menyebutkan darimana datangnya pendatang kurang jelas asal-usulnya tersebut.

di tempat terdekat yg paling tinggi tidak tergenang air yaitu gunung di daerah sumbar sudah ada perdaban besar, sesak dan ramai akhirnya mencari pemukiman baru yang airnya sudah menyusut. ini sesuai dengan tambo minang yg mengatakan nenek moyang mereka dari merapi (lebih tinggi tanahnya), pemukiman penuh, air mnyusut lalu mulai mencari tempat2 baru.

3.Anda mengatakan kandis sebelum masehi, lalu mengadakan hubungan dagang dengan malaka.

berarti malaka ini disini sudah sangat maju SEBELUM MASEHI. sebuah peradaban bisa dikatakan maju kalau sudah memiliki kerajaan yg tersistem, shingga bisa melakukan hubungan perdagangan. apalagi anda mengatakan Kandis sudah memproduksi emas dll. yg sudah pasti konsumen perdangan ini adalah raja.

Pertanyaannya : raja malaka yg mana?

apakah anda pura2 lupa peradaban di malaka dimulai jauh sesudah masehi (1377 M) ktika raja sriwijaya (Parameswara) diserang majapahit, raja sriwijaya terdesak akhirnya melarikan diri ke tumasik (singapura)... lalu kmudian ke semenanjung dengan sisa2 yg ada membangun kerajaan baru (cikal bakal kerajaan malaka sekarang).

Sampai sekarang 2 negara masih merasa ada hubungan erat dengan sriwijaya yaitu malaysia dan thailand. Jadi aneh sekali jika ada hubungan dagang (peradaban maju) antara malaka dan kandis SEBELUM MASEHI. karena di Malaka sebelum masehi tidak ada peradaban sebelum Prameswara datang di tahun 1377 M.

4.Ratusan tahun sebelum Masehi anda mengatakan Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung (Dt perpatih nan sebatang dengan Dt ketemanggungan).

CATAT : ratusan tahun seblum masehi kedua datuk tersebut hidup.

Lalu kenapa di abad 13 Masehi atau tahun 1375 Masehi kedua datuk ini
masih TETAP hidup dan sempat pula napak tilas kekampungnya. Apakah anda sudah memikirkan celah ini sebelum mengarang kerajaan kandis lebih lanjut?

berikut simak fakta dibawah ini:

a. Ratusan tahun Sebelum masehi Datuk ini eksis (100 SM)

b. Kdua datuk ini kembali pada tahun 1375 Masehi kemudian ( JARAK DARI 100 SM KE 1375 MASEHI ADALAH 1475 TAHUN-seribu empat ratus tujuhpuluh lima tahun) ini

perhitungan jika 100 sm saja bagimana jika ngikut dengan data anda yg ratusan tahun.

c. Umur manusia rata2 60 tahun paling lama 100 tahun lebih sdikit.

Pertanyaanya:

MANUSIA SEPERTI APA YG BISA HIDUP SAMPAI RIBUAN TAHUN LEBIH?

sudah sangat jelas sekali diatas hanya sebuah karangan yg tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Ini sebuah analisis rancu, harap jangan diposting karena nanti akan membingungkan generasi baru bagi kuansing dan skitarnya.

Anda merasa dengan mengarang tahun sejarah disini anda akan menganggap bahwa data tulisan anda benar dan berusaha berbahasa santun mengenai penyebaran bahasa, dialek, dll. padahal menjadi bumerang bagi tulisan anda, karena semua sejarahwan tahu persis data ini. Lebih disayangkan lagi, tulisan diatas tanpa prasasti (yang tidak bisa dikarang, direvisi keasliannya).

Akhirnya Dengan adanya perbaikan ini saya dengan rasa hormat mengajak anda untuk berlaku jujur dalam penulisan sejarah kedepannya nanti. Karena jika masih ada kepentingan atau etnonationalisme,kaumfinisme dalam hati anda maka tulisan anda tidak akan pernah bisa dihargai.

Anonymous said...
on 

fakta menarik dalam tulisan ini:

1.lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.

anda tidak berani menjelaskan lebih lanjut padahal anda tahu PERTEMUAN 2 SUNGAI dalam banyak peninggalan,prasasti,observasi data sejarah mengacu ke MINANGA KAMWA(kembar). pertemuan sungai kampar kiri dan kanan tepatnya wilayah Sumbar sekarang atau minangkabau.


2. Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi
oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya.

Jika anda setuju dengan teori penyusutan air laut yg anda kemukakan panjang lebar disini secara tidak lansung ada bisa menyebutkan darimana datangnya pendatang kurang jelas asal-usulnya tersebut.

di tempat terdekat yg paling tinggi tidak tergenang air yaitu gunung di daerah sumbar sudah ada perdaban besar, sesak dan ramai akhirnya mencari pemukiman baru yang airnya sudah menyusut. ini sesuai dengan tambo minang yg mengatakan nenek moyang mereka dari merapi (lebih tinggi tanahnya), pemukiman penuh, air mnyusut lalu mulai mencari tempat2 baru.

3.Anda mengatakan kandis sebelum masehi, lalu mengadakan hubungan dagang dengan malaka.

berarti malaka ini disini sudah sangat maju SEBELUM MASEHI. sebuah peradaban bisa dikatakan maju kalau sudah memiliki kerajaan yg tersistem, shingga bisa melakukan hubungan perdagangan. apalagi anda mengatakan Kandis sudah memproduksi emas dll. yg sudah pasti konsumen perdangan ini adalah raja.

Pertanyaannya : raja malaka yg mana?

apakah anda pura2 lupa peradaban di malaka dimulai jauh sesudah masehi (1377 M) ktika raja sriwijaya (Parameswara) diserang majapahit, raja sriwijaya terdesak akhirnya melarikan diri ke tumasik (singapura)... lalu kmudian ke semenanjung dengan sisa2 yg ada membangun kerajaan baru (cikal bakal kerajaan malaka sekarang).

Sampai sekarang 2 negara masih merasa ada hubungan erat dengan sriwijaya yaitu malaysia dan thailand. Jadi aneh sekali jika ada hubungan dagang (peradaban maju) antara malaka dan kandis SEBELUM MASEHI. karena di Malaka sebelum masehi tidak ada peradaban sebelum Prameswara datang di tahun 1377 M.

4.Ratusan tahun sebelum Masehi anda mengatakan Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung (Dt perpatih nan sebatang dengan Dt ketemanggungan).

CATAT : ratusan tahun seblum masehi kedua datuk tersebut hidup.

Lalu kenapa di abad 13 Masehi atau tahun 1375 Masehi kedua datuk ini
masih TETAP hidup dan sempat pula napak tilas kekampungnya. Apakah anda sudah memikirkan celah ini sebelum mengarang kerajaan kandis lebih lanjut?

berikut simak fakta dibawah ini:

a. Ratusan tahun Sebelum masehi Datuk ini eksis (100 SM)

b. Kdua datuk ini kembali pada tahun 1375 Masehi kemudian ( JARAK DARI 100 SM KE 1375 MASEHI ADALAH 1475 TAHUN-seribu empat ratus tujuhpuluh lima tahun) ini

perhitungan jika 100 sm saja bagimana jika ngikut dengan data anda yg ratusan tahun.

c. Umur manusia rata2 60 tahun paling lama 100 tahun lebih sdikit.

Pertanyaanya:

MANUSIA SEPERTI APA YG BISA HIDUP SAMPAI RIBUAN TAHUN LEBIH?

sudah sangat jelas sekali diatas hanya sebuah karangan yg tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Ini sebuah analisis rancu, harap jangan diposting karena nanti akan membingungkan generasi baru bagi kuansing dan skitarnya.

Anda merasa dengan mengarang tahun sejarah disini anda akan menganggap bahwa data tulisan anda benar dan berusaha berbahasa santun mengenai penyebaran bahasa, dialek, dll. padahal menjadi bumerang bagi tulisan anda, karena semua sejarahwan tahu persis data ini. Lebih disayangkan lagi, tulisan diatas tanpa prasasti (yang tidak bisa dikarang, direvisi keasliannya).

Akhirnya Dengan adanya perbaikan ini saya dengan rasa hormat mengajak anda untuk berlaku jujur dalam penulisan sejarah kedepannya nanti. Karena jika masih ada kepentingan atau etnonationalisme,kaumfinisme dalam hati anda maka tulisan anda tidak akan pernah bisa dihargai.

Pengasuh blog Sungai Kuantan yang baik, tulisan komentar saya mohon dipublikasikan agar ada keseimbangan fakta data sejarah. Terima Kasih sebelumnya.

Anonymous said...
on 

Betul sunda bukan melayu karena menurut pininggalan dan prasasti sebelum kuatnya peradaban disumatera, sunda (jawa barat) sudah memiliki kerajaan masyhur dengan peradaban sendiri.

Sebelum membahas atlantis dan kandis ini ada baiknya mengenal melayu dahulu karena kita tidak bisa mengupas ini terlalu jauh kalau pemahaman dasar sejarah tak cukup.

Melayu ini istilah belakangan (14 M)yg sekarang sangat populer dengan merujuk ras sawomatang dan muslim nusantara. Terkadang melayu identik dengan Malaysia, Riau dsb. Dalam peninggalan sejarah tertua(catatan berita cina) tidak ada istilah MELAYU yang ada MALAYU/MOLOYU. Bagaimana nama ini bisa berbeda dikemudian harinya?

MALAYU adalah:
-sebuah kerajaan besar sumatera yang berada di sungai batang hari jambi-sumatera barat. Bangsa yg tinggal disana dipanggil dengan nama kerajaanya orang MALAYU bukan melayu.
-Pendapat kedua: Malayu berpusat di Minanga (5-7 M), pada abad ke-13 berpusat di Dharmasraya lalu pindah di Suruaso atau Pagaruyung (semuanya berada di sumaterabarat. Untuk kata minanga baca prasasti kedukan bukit.
-Dalam Pararaton (jawa) menyebutkan Dharmasraya merupakan ibukota dari negeri Bumi MALAYU.

Kerajaan Malayu terdapat 3 pandangan ahli. 1. beranggapan sama dengan berdirinya sriwijaya. 2. Lebih dahulu dari sriwijaya. 3. Malayu dan sriwijaya adalah kerajaan yg sama. Terlepas dari itu yg pasti Malayu ini adalah Sebuah peradaban besar yang mempengaruhi seluruh peradaban di sumatera dan disemenanjung.

lalu kenapa sekarang jadi istilah melayu bukan MALAYU. Ini bepengaruh sekali semenjak kerajaan MALAKA maju setelah runtuhnya kerajaan malayu dan sriwijaya. Penyebaran bangsa MALAYU sebelumnya telah meluas menetap diseluruh pelosok sumatera termasuk juga dipedalaman yang memaksa mereka untuk melakukan hubungan dagang dan lainnya ke malaka. Dari sini sinilah kata MALAYU telah berubah jadi MELAYU karna dialek suatu bangsa tidak diketahui secara pasti siapa yg mempulerkan isitilah MELAYU ini pertama kali (mnurut beberapa ahli melayu malaysia, dialeknya dibawa dari kalimantan oleh Dayak Malayik) akan tetapi yang pasti bukan abad ke 13 karna majapahit masih menyebut MALAYU diabad 13 ini (baca ekspedisi PAMALAYU). Bisa disimpulkan istilah melayu itu muncul abad 14 M di malaka sampai malaka jatuh 1511 M istilah melayu tetap langgeng sampai masa sekarang.

Bukti MALAYU bukan melayu itu masih ada bisa dilihat dari peradaban besar bahasanya yg berdialek O sampai sekrang:
- Palembang, jambi bengkulu.
- Sumatera barat dengan pengaruhnya bagian barat provinsi Riau,bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan Malaysia juga siak (karena ada hubungan erat minang dengan sultan siak yg dibesarkan dipagaruyung persiapan merebut johor akhirnya dialek siak lebih populer o)
-dan masih banyak jika ingin dikaji lebih dalam lagi.


Dimalaysia sendiri (setelah runtuh emperium MALAYU/sriwijaya) kerajaan besar seperti malaka johor dan lainnya menyebar dialek e keberbagai penjuru termasuk kesumatera dan kalimantan.

Akhirnya terlepas dari melayu berdialek e atau o yang jelas sumatera bernenek moyang MALAYU (batanghari jambi-sumbar, sumbar dan palembang)bukan malaka karena malaka belum memiliki peradabann maju sebelum raja sriwijaya terakhir pindah kesana. dan malaysia mengakui bernenek moyang ke MALAYU/Sriwijaya.

Jika ingin mencari peradaban kandis kuantan berhubungan dengan atlantis tentunya ada baiknya kita harus menggali terlebih dahulu peradaban besar yang mempengaruhi kandis tersebut karena secara teritorial sekarang kandis masuk dalam provinsi riau, sebelumnya masuk dalam kekuasaan Sumaterabarat-jambi dan palembang.

semoga tulisan ini membantu.

Anonymous said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs