-

September 05, 2008

Pacu Jalur di Kuantan Singingi

Pacu Jalur adalah salah satu Even Wisata Kebanggaan Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi. Ada yang mengatakan Pacu Jalur ini sama dengan dengan Even Wisata Dayung Perahu Naga. Itu salah besar. Kalau miriup mungkin iya. Karena Pacu Jalur mempunyai keunikan tersendiri. Dimulai dari mencari pohon besar untuk perahu, pembuatannya sampai kegelanggang pacu. Inilah daya tarik even wisata tradisional yang mendunia. Setiap even Pacu Jalur ini dihelat ada saja peserta dari luar negeri yang turut serta. Berikut ini paparan tentang Pacu Jalur, dimulai dari asal usul, pembuatan sampai ke tata cara perlombaanya.

Pacu Jalur Khasanah Budaya Kuantan Singingi

Asal Usul dan Perkembangan

Kuantan Singingi adalah sebuah daerah yang secara administratif termasuk dalam Provinsi Riau. Daerahnya banyak memiliki sungai. Kondisi geografis yang demikian, pada gilirannya membuat sebagian besar masyarakatnya memerlukan jalur1 sebagai alat transportasi Kemudian, muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Selain itu, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Perkembangan selanjutnya (kurang lebih 100 tahun kemudian), jalur tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi dan simbol status sosial seseorang, tetapi diadu kecepatannya melalui sebuah lomba. Dan, lomba itu oleh masyarakat stempat disebut sebagai “Pacu Jajur”.


Pada awalnya pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, atau Tahun Baru 1 Muharam. Ketika itu setiap perlombaan tidak selalu diikuti dengan pemberian hadiah. Artinya, ada kampung yang menyediakan hadiah dan ada yang tidak menyediakannya. Lomba yang tidak menyediakan hadiah diakhiri dengan acara makan bersama. Adapun jenis makanannya adalah makanan tradisional setempat, seperti: konji, godok, lopek, paniaran, lida kambing, dan buah golek. Sedangkan, lomba yang berhadiah, penyelenggara mesti menyediakan empat buah marewa2 yang ukurannya berbeda-beda. Juara I memperoleh ukuran yang besar dan juara IV memperoleh ukuran yang paling kecil. Namun, dewasa ini hadiah tidak lagi berupa marewa tetapi berupa hewan ternak (sapi, kerbau, atau kambing).


Ketika Belanda mulai memasuki daerah Riau (sekitar tahun 1905), tepatnya di kawasan yang sekarang menjadi Kota Teluk Kuantan, mereka memanfaatkan pacu jalur dalam merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Akibatnya, pacu jalur tidak lagi dirayakan pada hari-hari raya umat Islam. Penduduk Teluk Kuantan malah menganggap setiap perayaan HUT Ratu Wilhelmina itu sebagai datangnya tahun baru. Oleh karena itu, sampai saat ini masih ada yang menyebut kegiatan pacu jalur sebagai pacu tambaru. Kegiatan pacu jalur sempat terhenti di zaman Jepang. Namun, pada masa kemerdekaan pacu jalur diadakan kembali secara rutin untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (17- Agustusan).


Pacu Jalur Khasanah Budaya Kuantan Singingi

Pemain Pacu Jalur

Pacu jalur hanya dilakukan oleh para laki-laki yang berusia antara 15--40 tahun secara beregu. Setiap regu jumlah anggotanya antara 40--60 orang (bergantung dari ukuran jalur). Anggota sebuah jalur disebut anak pacu, terdiri atas: tukang kayu, tukang concang (komandan, pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), tukang onjai (pemberi irama di bagian kemudi dengan cara menggoyang-goyangkan badan) dan tukang tari yang membantu tukang onjai memberi tekanan yang seimbang agar jalur berjungkat-jungkit secara teratur dan berirama. Selain pemain, dalam lomba pacu jalur juga ada wasit dan juri yang bertugas mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.


Tempat Permainan Pacu Jalur

Pacu jalur biasanya dilakukan di Sungai Batang Kuantan. Sebagaimana telah dikatakan di atas, Sungai Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir, telah digunakan sebagai jalur pelayaran jalur sejak awal abad ke-17. Dan, di sungai ini pulalah perlombaan pacu jalur pertama kali dilakukan. Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya mengikuti aliran Sungai Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar 1 km yang ditandai dengan tiga tiang pancang.


Peralatan Permainan Pacu Jalur

Peralatan permainan dalam pacu jalur, tentu saja adalah jalur yang dibuat dari batang kayu utuh, tanpa dibelah-belah, dipotong-potong atau disambung-sambung. Panjang jalur antara 25--30 meter, dengan lebar ruang bagian tengah 11,25 meter. Bagian-bagian jalur terdiri atas: (1) luan (haluan); (2) talingo (telinga depan); (3) panggar (tempat duduk); (4) pornik (lambung); (5) ruang timbo (tempat menimba air); (6) talingo belakang; (7) kamudi (tempat pengemudi); (8) lambai-lambai/selembayung (pegangan tukan onjor); (9) pandaro (bibit jalur); (10) ular-ular (tempat duduk pedayung); (11) selembayung (ujung jalur berukir); dan (13) panimbo (gayung air). Jalur dilengkapi pula dengan sebuah dayung untuk setiap pemain.


Bagian selembayung dan pinggir badan jalur biasanya berukir dan diberi warna semarak. Motifnya bermacam-macam seperti: sulur-suluran, geometris, ombak, buruk dan bahkan pesawat terbang. Tiap-tiap jalur mempunyai nama seperti: Naga Sakti, Gajah Tunggal, Rawang Udang, Kompe Berangin, Bomber, Pelita, Orde Baru, Raja Kinantan, Kibasan Nago Liar, Singa Kuantan Sungai Pinang, Dayung Serentak, Keramat Jati, Panggogar Alam, Tuah di Kampuang Godang di Rantau, Ratu Dewa dan lain-lain. Tujuan dari pengukiran, pewarnaan dan pemberian nama pada setiap jalur tersebut adalah agar dapat “tampil beda” dari yang lain.


Untuk dapat membuat sebuah jalur-lomba yang biasanya mewakili desa, kecamatan atau kabupaten, harus melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan banyak orang. Sebagai suatu proses, tentunya pembuatan jalur dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Berikut ini adalah tahap-tahap yang mesti dilakukan dalam pembuatan sebuah perahu yang oleh orang Kuantan Singingi disebut jalur.


Hal pertama yang dilakukan adalah menyusun rencana pembuatan jalur melalui musyawarah atau rapek kampung yang dihadiri oleh berbagai unsur seperti pemuka adat, cendekiawan, kaum ibu dan pemuda. Rapat ini biasanya dipimpin oleh seorang pemuka desa atau pemuka adat. Bila kesepakatan telah dicapai, maka kegiatan selanjutnya adalah memilih jenis kayu. Pohon yang dicari adalah banio atau kulim kuyiang yang panjangnya antara 25--30 meter dengan garis tengah antara 1½ --2 meter. Kedua jenis pohon tersebut disamping kuat, tahan air, juga dipercayai ada “penunggunya”. Setelah pohon yang memenuhi persyaratan ditentukan, maka penebangan pun dilakukan. Akan tetapi, sebelumnya diadakan semacam upacara persembahan kepada “penunggu” pohon agar pohon itu tidak hilang secara gaib.


Kayu yang sudah disemah oleh pawang, selanjutnya ditebang dengan kapak dan beliung. Setelah itu, kayu diabung (dipotong) ujungnya menurut ukuran tertentu sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat. Setelah diabung kedua ujungnya, kemudian kayu dikupas kulitnya dan diukir pada bagian haluan, telinga, dan lambung. Apabila jalur sudah terbentuk, maka langkah berikutnya adalah meratakan bagian depan (pendadan), yakni bagian atas kayu yang memanjang dari pangkal sampai ke ujung. Kemudian disusul dengan tahap mencaruk atau melubangi dan menghaluskan bagian dalam kayu dengan ketebalan tertentu.


Selanjutnya menggaliak atau membalikkan dan menelungkupkan kembali jalur untuk dibentuk dan dihaluskan. Pekerjaan ini memerlukan perhitungan cermat sebab harus selalu menjaga ketebalan jalur agar dapat seimbang ketika berada di air. Cara mengukurnya antara lain dengan membuat lubang-lubang kakok atau bor yang kemudian ditutup lagi dengan semacam pasak. Setelah terbentuk, maka jalur dibalikkan kembali dan kemudian dilanjutkan dengan proses terakhir yaitu membuat haluan dan kemudi. Apabila haluan dan kemudi telah terbentuk, maka jalur akan dibawa ke kampung untuk diasapi dan disertai dengan upacara maelo jalur. Sebelum jalur diluncurkan ke sungai, ada suatu upacara lagi yang bertujuan agar jalur dapat berlayar dengan baik ketika sudah berada di air.


Aturan Permainan Pacu Jalur

Pacu jalur dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu: (1) pacu antarbanjar atau dusun; (2) pacu antardesa atau kelurahan; dan (3) pacu antarkecamatan yang ada di wilayah Kuantan Sengingi. Aturan dalam ketiga tingkatan perlombaan pacu jalur tersebut tergolong mudah, yaitu regu jalur yang dapat mencapai garis finish terlebih dahulu dari regu lain, dinyatakan sebagai pemenangnya. Pertandingan pacu jalur biasanya dilakukan dengan dua sistem yaitu: setengah kompetisi dan sistem gugur untuk menentukan pemenang pertama hingga keempat dan sepuluh besar.


Pacu Jalur Khasanah Budaya Kuantan Singingi

Jalannya Permainan Pacu Jalur

Perlombaan, baik antardusun, antardesa, maupun antarkecamatan, diawali dengan membunyikan meriam. Meriam digunakan karena apabila memakai peluit tidak akan terdengar oleh peserta lomba, mengingat luasnya arena pacu dan banyaknya penonton yang menyaksikan perlombaan. Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah ditentukan urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu telah berada di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam posisi siap (berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Dan, setelah wasit membunyikan meriam untuk yang ketika kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui jalur lintasan yang telah ditentukan. Sebagai catatan, ukuran dan kapasitas jalur serta jumlah anak pacunya (peserta) dalam lomba ini tidak dipersoalkan, karena ada anggapan bahwa penentu kemenangan sebuah jalur lebih banyak ditentukan dari kekuatan magis yang ada pada kayu yang dijadikan jalur dan kekuatan kesaktian sang pawang dalam “mengendalikan” jalur.


Dalam pertandingan jalur, apabila menerapkan sistem gugur, maka peserta yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama. Namun apabila menggunakan sistem setengah kompetisi, setiap regu akan bermain beberapa kali dan pada akhirnya regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya.


Nilai Budaya Pacu Jalur

Nilai budaya yang terkandung dalam pacu jalur adalah: kerja keras, ketangkasan, keuletan, kerja sama dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar jalurnya dapat mendahului jalur regu lain. Nilai ketangkasan dan keuletan tercermin dari teknik-teknik yang dilakukan oleh anggota sebuah regu dalam menjalankan jalur agar dapat melaju dengan cepat dan tidak tenggelam. Nilai kerja sama tercermin dari anggota regu yang berusaha bersama-sama mengendalikan jalur agar dapat melaju cepat dan memenangkan perlombaan. Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.



Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Dierktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Hkasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1 Jalur adalah sebuah perahu yang pada awal abad ke-17 digunakan sebagai alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan yang berada di sepanjang Sungai Batang Kuantan (antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir). Ketika itu transportasi darat belum berkembang, sehingga jalur merupakan alat angkut penting bagi warga desa, terutama untuk mengangkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu. Selain itu, juga untuk mengangkut manusia (sekitar 40 orang).

2 Marewa adalah bendera kain berwarna-warni yang berbentuk segi tiga dan bagian tepinya direnda.

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan


Baca Juga Artikel Pekanbaru Riau Dibawah ini:

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari www.sungaikuantan.com di inbox anda:

Comments :

32 komentar to “Pacu Jalur di Kuantan Singingi”

i love kuansing
i love all about kuansing
informasinya cukup padat boss
lanjutkan terus.......

wayuk said...
on 

untuk mengembangkan nilai2 kebudayaan nenek luhur kita,,harus bersama2 kita bahu membahu,,semua orng tanpa terkecuali,,,

CaniagoSimandolak said...
on 

pacu jalur adalah even pariwisata Kuansing yg telah mndunia.....
smoga evennya setiap bulan agustus.. smkin baik plaksaannya....

na90 said...
on 

seAbad sudah,, malahan lbih,, tradisi pacu jalur di Kuantan Singingi.... dan tlah mnjadi icon budaya.... smoga Pemda kuansing.. lebih gncar lagi mmpromosikan pacujalur... coz slma ini.. 90% baru diramaikan oleh masyarakat kuansing sndiri...
alangkah baiknya.. turis manca.. yg meramaikan..
pokoknya.. promosi harus gencar.. coz bnyak saingan sperti prahu naga / dragon boat....
sbenarnya bnyak yg bisa di tonjolkan dari Pacu jalur.. dari sisi awl pmbuatan dan smpai ia di lepas ke Sungai Kuantan.. itu yg harus di promosikan jg.. kalau perlu di agendakan dalm agnda pariwisata kuansing.. >> malayuar jaluar, maelo jalur, mengecat... pmbuatan, pacu godok. dLLL..
siip....
ini hanya pmikiran.. dari seorang ank SMP yg baru tumbuh.. mklum.. dan mhon mf klu ada ksalahan.. kata-kata...

dhiyah said...
on 

Satu keinginan yang sampe sekarang belum kesampaian....Nonton pacu jalur secara langsung...! selama ini lewat layar televisi ajah.....

IjoPunkJutee said...
on 

Budaya pacu jalur sudah menjadi even NAsional yang menjadi kebanggan masyarakat kuantan singingi.

ronaldorozalino said...
on 

tunggu kedatangan ku di batang sungai kuantan, untuk menyaksikan pacu jalar, event wisata nasional yang sudah go internasional

eri-communicator said...
on 

Anda bilang jalur di gunakan tidak sekedar alat angkut transportasi namun juga untuk di lombakan.... dan kenapa tidaka ada transportasi di sungai kuantan yang menggunakan jalur......dan hanya di gunakan saat ada event pacu jalur saja.......

sebaiknya ada pula jalur spesial untuk transportasi...
agar turut memperlihatkan seni kuansing....dan orang asing pun tidak perlu menunggu adanya event pacujalur untuk melihatnya...bahkan mereka bisa sekaligus merasakan keadaan saat diatas jalur.....agar jalur dapat lebih dipahami....

hal ini juga dapat meningkatkan kunjungan penduduk asing ke daerah kita.......

from : standers

abrar said...
on 

Keren pacu jalur na, kalo bisa dibuat donk buku/ artikel tentang pacu jalur.

PendidikanRiau.com said...
on 

wah pasti meriah banget nich acaranya, hi..hi.. jadi pengen liat nich, bos kalo bisa undang aja tuh jejak petualang nya trans 7 biar ngeliput disana..!

dhimas130184 said...
on 

Budaya perlu kita lestarikan bersama-sama

new blogger said...
on 

info menarik.. thanks ya memang benar semua budaya butuh kita yang melestarikannya

ragil aka therunk said...
on 

Huek panjang bgt ni artikel ! Aq males baca !

Remba said...
on 

menarik info nya. thank

cicurug said...
on 

wah kayanya perahu naga dari china niru perahu jalur ya, Hehe...

internasional hot news said...
on 

wah keyennn

riky said...
on 

Blog walking nie..

tau nie blog setelah jalan2 di KasKus..

Jangan lupa kunjungan baliknya ya^^

Jual Pulsa Murah said...
on 

mampir yuk...http://www.komunitasbloggerkuantansingingi.blogspot.com

kuantan blogger mania said...
on 

Wahh...enak bgt tuh.

cheez said...
on 

hallow kawan tolong kirim video pacu jalur 2009..kawan di rantau la tadogak nk manengok pacu..baliak tak bisa ro..tolong muah parolu..atau ada info sila inform to email cannavis_pd@yahoo.com..tq:-)

Anonymous said...
on 

Wah asik bgt ya..
Kapan2 klo ke riau aku mau lihat ahh..:)

moratmarit said...
on 

wah. mantaf nih artikelnya,
jadi tambah pengetahuan khasanah budaya bangsa

kang dwi said...
on 

sippp banget pak artikelnya
bacanya sampe liyer

ONI said...
on 

artikel yang sangat bagus..thx

willy weblog said...
on 

bang admin nampaknye headernye mangganggu atau menutup artikel , usul bagaimano kalau headernye dak diam.

NAK NONTON PACU JALUR 2009 ATAU PACU JALUAR 2009 singga yo di http: // tokoonlin-e. com



usul pak admin headernye dak usah dionokkanje.

singga yo NONTON PACU JALUAR 2009 ATAU PACU JALUR 2009 DI http:tokoonlin-e.com

Anonymous said...
on 

wah keren banget ne, saya anak jake yang kebetulan sekarang sedang merampungkan studi diyogya, walaupun saya jauh dari kampung tapi tetap bisa dengan mudah memantau perkembangan yang ada di kuansing tentunya dengan hadirnya blog ini. pokoknya LANJUTKAN !!! BASATU NAGORI MAJU

Lan_cute said...
on 

bozzz linknya sudah saya pasang di blog saya, link balik ya... thanks hehehe

sephtian said...
on 

Mantap sobat, I love it. Sucsess for you

GOLDEN INFO said...
on 

pas acara ini, semua cewek cantik keluar dari sarangnya
yihaaaaaaaaa
embat 1 Mo

attayaya said...
on 

kuansing asik woi,tp ..... gk asik

Anonymous said...
on 

mari kita tingkatr kan.kebudaya yang ada didaera kuantan ssingigi ni,dengan ada nya pacu jalur.....maka terbentuk laH PERSATUAN DAN KESATUAN kita

lidar said...
on 

lestari... lestari alam Q lestari budayaa dan tradisi negrii ini...

nanda takha said...
on 

Bagaimana Pendapat Anda?

KOMENTAR Sobat Adalah Nyawa Blog All About Pekanbaru Riau ini, Tentunya Blog Sobat Juga, Jadi Kita Sesama Blogger Mari Saling Menghidupi... Hehehe....

Bagi yang BELUM PUNYA BLOG bisa pakai 'Comment As: name/URL. masukkan nama dan FS, FaceBook, Multiplay atau lainnya (contoh: http://facebook.com/nanlimo)

 

SungaiKuantan.Com Site Info


TopOfBlogs